10.1.14

dialog siang itu

Pria muda itu baru saja menghabiskan makan siangnya. Sepiring nasi dengan lauk ayam bakar bumbu kecap. 

Sederhana, walau dengan cita rasa sederhana tapi sungguh mampu menyaingi rasa masakan di restoran mahal tempat dia pernah ditraktir pimpinannya, bahkan dengan perut lapar itu mampu membuai lidahnya.

Segelas es tawar tak luput diteguknya, sungguh nikmat. Hal yang sama juga dilakukan beberapa temannya yang kebetulan makan bersamanya.

Selang 5 menit, warteg kian ramai, segera ia dan temannya beranjak menuju kasir. sembari memberikan tempat duduk untuk yang akan makan.

"nasi ayam bakar bu"
"minumnya mas?"
"es tawar.."
"13 ribu mas"

percakapan klise, karena si pria sudah sering makan dengan formasi lauk yang sama sebenarnya. Maka bergeraklah seorang sultan mahmud badarudin dan pangeran antasari berserta kembarannya menuju tangan ibu kasir. Segera si kasir mengaduk-aduk kaleng bekas biskuitnya.

"waduh mas... seribuan nya gak ada". 
Lagi lagi klise.

Si pria tersenyum, karena dia tahu beberapa orang di sebelah nya yang memlih untuk memesan bungkusan memegang uang ribuan, sang kapitan.

Ah, mungkin sang kapitan milik si ibu kasir masih berjuang menumpas penjajahan, penjajahan yang menghasilkan kemiskinan... kemiskinan didapur warteg. Miskin cita rasa.

"hmm.. kalo gitu ambil kerupuk ini 2 bungkus ya bu?"
"iya mas. makasih ya"
"iya bu"

Segera ia beranjak keluar. Disana menunggu sebuah kursi panjang, untuk mereka yang masih ingin memanjakan perutnya. Duduklah ia sembari menikmati kerupuk menunggu temannya yang bertandang ke warung sebelah untuk membakar uang.

"Mas, bisa ngomong bentar gak..?"

Matanya mencari sumber suara. Tampak sesosok pria muda, lebih muda darinya. Bukan remaja tanggung, tapi bukan pula cukup untuk disebut pria dewasa berdiri disampingnya. Tersenyum penuh harap. Maka segera pria itu tersenyum sambil memberikan isyarat untuk si pemuda meneruskan bicaranya.

"gini Mas, saya mau pinjem uang... seratus aja koq Mas. buat bensin motor sama beli makan besok.. gaji saya tinggal 20rb mas. lusa kan gajian Mas, nah pas itu saya ganti"

Sambil basa-basi dan sedikit tersenyum ia menyodorkan sang proklamator ke pemuda itu. ini kali ke sekian untuk pertanyaan yang sama dan ia pun tau si pemuda juga selalu menepati janjinya, walau tidak untuk waktunya.

"lusa ya" katanya.
"iya mas, pasti di ganti koq mas"

tak lama si pemuda duduk berjejer sambil menghisap kreteknya, seiring terbakarnya tembakau si pemuda, pemuda dan pria itu segera terlibat obrolan ringan.
tiba-tiba tukar pikiran itu terhenti akibat deringan handphone si pemuda

"halo.. iya.. iya... aku masih diwarteg biasa, udah beli ni, 2 bungkus.. iya, sorry gak bs nelp sama sms ni, pulsa ku abis dari kemaren.... iya ini mau balik kekantor lagi ni.. iya, bentar lagi"

si pemuda terlibat percakapan dengan rekannya, tapi si pria lebih tertarik dengan yang digenggam sang pemuda. saat sang pemuda menjelaskan identitas si penelpon, si pria justru tergelitik untuk bertanya mengenai yang digenggam pemuda tersebut.

"baru ya? dan sepertinya modelnya baru liat saya". ia pun bertanya meski ia sudah mengantongi jawabannya jauh sebelum ia ingin bertanya.

sang pemuda tersenyum bangga, dengan piawai bak sales barang elektronik sang pemuda bercerita kalau ia baru saja membelinya, ia pun bercerita tentang betapa mutakhirnya teknologi smartphone itu, kemampuan multimedia yang apik, dan jumlahnya dipasaran yang terbatas. Dan sang pria tau hal itu dibarengi lembaran proklamator yang sepadan melalui 3 bulan cicilan gaji si pemuda.

si pria lagi-lagi tersenyum, teringat handphone yang cukup uzur bila dibandingkan dengan smartphone si pemuda.

"Mas saya balik duluan ya, udah ditungguin nasinya. hehe" si pemuda memecah lamunan pria.

Sembari menyalami si pemuda, ia menganggukkan kepala.
Dan tak lama berselang si pemuda sudah berada diatas motor sportnya, seiring muncul sebuah pertanyaan.

"siapa tuh bro?"
"oh, itu... operator ku bro".

kali ini senyumnya miris, penuh ketidak-habis-pikiran.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar